"Jika Allah mempercayakan keluarga-Nya kepada Yusuf, pantaskah kita terpikat pada yang hanya pandai berkata-kata?"
-Amelia Theodora Salawe
Sejak bulan Desember kemarin, saya ingin sekali menulis tentang Yusuf. Entah mengapa kisah Yusuf yang diceritakan dalam Injil Matius dan Injil Lukas terus menarik perhatian saya. Yusuf yang sebelumnya saya kenal terlihat biasa saja. Namun sejak Desember 2025, Yusuf justru menjadi salah satu tokoh favorit saya. Bukan Maria. Bukan malaikat. Bukan para gembala. Tapi Yusuf. Saya mulai membaca dan melihat Yusuf dari sudut pandang yang berbeda.
Masalahnya, Desember adalah bulan yang sangat padat. Pelayanan, ibadah, rapat, latihan, dan berbagai agenda lain membuat saya tidak pernah menemukan waktu yang benar-benar pas untuk menulis. Ketika sampai di rumah, saya sudah terlalu lelah. Ide tentang Yusuf terus ada, tapi selalu saya tunda. Baru beberapa hari terakhir ini, ketika saya mengambil waktu libur dan kembali ke rumah, saya bisa duduk dan menulis dengan lebih tenang.
Oke, mari membaca tulisan sederhana tentang Yusuf ini.
Kisah tentang Yusuf sendiri tidak panjang. Tidak banyak detail. Tidak ada satu kalimat pun yang dicatat keluar dari mulutnya. Tapi justru dari sikap dan keputusannya, saya melihat gambaran laki-laki yang sangat relevan dengan kehidupan hari ini, sekaligus semakin jarang ditemukan.
Semakin saya memikirkan Yusuf, semakin saya sadar bahwa banyak persoalan relasi hari ini berakar dari cara laki-laki dibentuk sejak awal. Laki-laki diajari untuk selalu kuat, tidak boleh ragu, tidak boleh salah, tidak boleh malu. Harga diri harus dijaga, apa pun risikonya. Dari pola inilah lahir apa yang sering kita sebut maskulinitas toksik.
Maskulinitas toksik tidak selalu muncul dalam bentuk kekerasan. Justru sering muncul dalam sikap yang kelihatannya normal. Mudah tersinggung. Sulit mengaku salah. Cepat membela diri. Ketika relasi menjadi rumit, pergi terasa lebih mudah daripada bertahan. Ego lebih dijaga daripada hubungan. Pola seperti ini tidak hanya kita temui hari ini. Pola yang sama juga muncul dalam kisah Yusuf. Bedanya, Yusuf berada tepat di persimpangan itu dan harus memilih.
Yusuf menghadapi situasi yang sangat memukul ego laki-laki. Tunangannya mengandung, bukan olehnya. Nama baiknya terancam. Dalam konteks sosial saat itu, ia punya alasan kuat untuk pergi dan akan tetap dianggap benar. Banyak laki-laki hari ini akan memilih jalan itu. Menyelamatkan diri, lalu menutup cerita.
Yusuf tidak memilih jalan itu.
Ia tinggal. Dan tinggal bukan pilihan yang ringan. Tinggal berarti menanggung malu. Tinggal berarti memikul beban yang bukan sepenuhnya kesalahannya. Tinggal berarti menahan dorongan untuk menang sendiri. Di titik inilah saya melihat perbedaan yang sangat jelas antara maskulinitas yang merusak dan maskulinitas yang dewasa.
Yusuf tidak mengontrol. Tidak mempermalukan. Tidak menjadikan dirinya pusat cerita. Ia bertanggung jawab. Ia hadir. Ia bisa diandalkan. Dan justru di situlah kekuatannya.
Dari Yusuf, pikiran saya kemudian mengalir ke pengalaman lain yang terus saya jumpai sejak lama, yaitu soal fatherless. Saya tidak menulis bagian ini dari teori. Saya menulis dari apa yang saya lihat sendiri sejak menjadi mahasiswa praktik di gereja sampai hari ini, ketika saya menjalani pelayanan sebagai vikaris.
Saya sering menjumpai anak-anak di kelas Sekolah Minggu sampai kelas Remaja dengan pola tingkah laku yang berulang. Ada anak yang mudah marah. Ada yang sulit diatur. Ada yang sangat mencari perhatian. Ada juga yang terlalu diam, seolah belajar sejak kecil bahwa lebih aman tidak banyak bicara.
Menariknya, banyak dari anak-anak ini punya ayah. Ayahnya ada di rumah. Tapi tidak benar-benar hadir. Hadir secara fisik, tapi jauh secara emosional. Datang, tapi tidak terlibat. Ada, tapi tidak menjadi tempat aman.
Semakin lama saya mendampingi mereka, saya mulai melihat kaitannya. Ketidakhadiran ayah sering kali bukan karena ayahnya tidak peduli, tetapi karena ayahnya sendiri dibesarkan dengan maskulinitas yang tidak sehat. Laki-laki diajari bekerja keras, tapi tidak diajari hadir. Diajari menahan emosi, tapi tidak diajari mengelolanya. Akhirnya, ketika menjadi ayah, yang hadir hanya tubuhnya, bukan hatinya.
Saya juga menjumpai orang-orang yang sudah dewasa, tetapi masih membawa luka yang sama. Luka karena tumbuh tanpa ayah yang benar-benar hadir secara emosional. Luka karena harus belajar kuat sendirian. Luka karena tidak pernah merasa ditemani. Luka-luka ini tidak hilang dengan sendirinya. Ia terbawa ke cara membangun relasi, menyikapi konflik, dan memandang diri sendiri.
Di titik inilah kisah Yusuf terasa semakin kuat. Yusuf bukan ayah biologis Yesus. Tapi ia hadir sepenuhnya sebagai ayah. Ia memberi nama. Ia melindungi ketika ada bahaya. Ia bekerja untuk keluarganya. Ia tidak hanya ada di rumah. Ia terlibat.
Yesus bertumbuh dalam keluarga yang sederhana. Hidupnya tidak mudah. Tapi ada satu hal yang jelas. Ada seorang laki-laki yang tidak lari dari perannya. Dan kehadiran itulah yang menciptakan rasa aman bagi Yesus. Dari situ saya semakin yakin. Maskulinitas yang tidak sehat sering melahirkan ayah yang tidak hadir secara emosional. Dan dari sanalah luka fatherless tumbuh dan diteruskan. Saya melihat dampaknya, nyata dan berulang.
Yusuf tidak sempurna. Tapi ia memutus pola itu. Ia memilih hadir. Dan dari pilihan sederhana itulah, sebuah keluarga diselamatkan.
Mungkin ini juga menjadi pengingat kecil bagi kita ketika berbicara soal pasangan hidup ya. Seharusnya kita tidak perlu terlalu terpukau pada yang pintar merangkai kata, rajin pamer kesalehan, atau jago membuat janji. Dari Yusuf, saya belajar bahwa yang paling penting bukan siapa yang terlihat meyakinkan di awal, melainkan siapa yang tidak pergi ketika hidup mulai terasa berantakan. Karena hadir itu bukan bakat loh. Itu pilihan.
Dan pilihan itulah yang terlihat jelas dalam cara Allah bekerja. Allah saja memilih Yusuf. Bukan yang paling meyakinkan di awal, melainkan yang tetap tinggal ketika keadaan menjadi rumit. Jika Allah mempercayakan keluarga-Nya kepada Yusuf, pantaskah kita terpikat pada yang hanya pandai berkata-kata?
Komentar
Posting Komentar