Unggulan

DRAMA NATAL| SAVE THE LOST: Natal Menurut Silsilah Yang Retak

 

SAVE THE LOST:

“Natal Menurut Silsilah yang Retak”

 

TOKOH:

1.    Narator

2.   Pemuda Masa Kini

3.   Tamar

4.   Rahab

5.    Rut

6.   Betsyeba

 

PROLOG:                                                                     (Lampu temaram)
(Seorang Pemuda duduk sendiri, tenang, terlihat sedikit letih.)

Pemuda:
Natal selalu datang tiap tahun. Lampu natal juga so dinyalakan. Lagu-lagu natal dong putar tiap saat. Tapi tara tau bikapa, kita justru rasa kita ini hanya badiri di pinggir cerita. Orang lain merayakan pencapaian hidup, kita justru hanya bisa merayakan satu hal kecil saja: bertahan hidup di hari ini.

Kadang kita batanya dalam hati, Tuhan nih Dia ada baca kita pe carita hidup ka tarada e? Kalo Dia baca, apakah ada halaman yang Dia kase lewat karna talalu biasa dan fol deng kegagalan? (Pemuda berjalan ke kanan panggung sambil menunduk)

Narator melangkah perlahan.

Narator:
Setiap manusia lahir membawa nama. Nama yang diwariskan. Nama yang diingat. Nama yang dibanggakan. Namun sejarah tidak memperlakukan semua nama dengan adil.  Ada nama yang disebut lantang. Ada nama yang hanya dibisikkan. Dan ada nama yang sengaja dilupakan. Natal sering kita mulai dari palungan.
Padahal sebelum palungan itu, ada silsilah. Dan di dalam silsilah itu, ada nama-nama perempuan yang nyaris dihapus dari ingatan.

(Lampu dinyalakan tapi tidak semua - Pemuda tetap di panggung.)

 

ADEGAN I: TAMAR (Tamar berdiri sendiri. Sunyi, tetapi teguh.) 


Tamar:
Namaku Tamar. Aku datang dari luar. Bukan bagian dari bangsa pilihan. Bukan perempuan yang dibanggakan. Aku menikah. Lalu menjanda. Bukan karena aku bersalah, tetapi karena hidup tidak selalu berjalan adil. Aku dijanjikan masa depan. Namun janji itu ditarik perlahan, hingga aku dibiarkan menunggu tanpa kepastian, tanpa suara.

Pemuda:           (pelan)
Kita mangarti perasaan itu. Itu bukan perasaan dapa tolak, tapi dilupakan.

Narator:
Janda tanpa anak dianggap tidak memiliki masa depan. Dan nama Tamar hampir benar-benar dihapus.

Tamar:
Aku tidak menuntut kehormatan. Aku hanya ingin diakui sebagai manusia yang ada. Aku percaya, Allah tidak menciptakan perempuan untuk dibuang oleh ketakutan dan kuasa. Dan dari rahimku lahir Peres. Yang menembus. Karena keselamatan tidak selalu lahir dari jalan yang rapi dan mudah.

(Tamar melangkah pergi. Lampu kembali redup.)

  

ADEGAN II: RAHAB (Rahab duduk, menatap jauh.)

 

Rahab:
Namaku Rahab. Kalian mengenalku dari satu kata saja. Pelacur. Perempuan rusak. Aku hidup di tembok kota. Tempat orang datang sembunyi-sembunyi dan pergi tanpa pernah menoleh. Aku tahu, dalam doa-doa orang saleh, namaku jarang disebut.

Pemuda:
(Tarik napas panjang) Sering kali orang hanya inga pa kita dari kita pe kesalahan, bukan dari kita pe perjuangan untuk bertahan.

Narator:
Rahab dinilai dari masa lalunya, bukan dari keberaniannya.

Rahab:
Ketika dua orang asing datang dengan ketakutan di matanya, aku merasakan sesuatu yang lama hilang: hidupku masih berarti. Aku menyembunyikan mereka. Bukan karena aku suci. Tetapi karena aku percaya, Allah belum selesai bekerja di hidup yang retak.

Narator:
Rahab menyelamatkan dua orang. Dan melalui keberaniannya, sebuah bangsa diselamatkan. (hening sejenak)

Dari Rahab, lahirlah Boas. Seorang laki-laki yang kelak dikenal karena kebaikan dan belas kasihnya. Dan melalui Boas, Allah meneruskan garis keturunan menuju kelahiran Sang Juruselamat.

Rahab:
Jika Allah mau memakai aku, maka tidak ada hidup yang sia-sia. (Rahab pergi perlahan. Lampu padam.)

 

 ADEGAN III: RUT (Masuk dan berdiri di kiri panggung)

 


Rut:

Aku orang asing. Aku tidak membawa hak. Aku tidak punya nama besar untuk ditawarkan. Aku bisa pergi. Dan semua orang akan mengerti.

Pemuda:
Lalu bikapa ngana tetap tinggal, padahal kalo keluar dari situ ngana jauh lebih aman?

Rut:
Karena tidak semua yang aman itu benar. Dan tidak semua yang benar itu mudah dijalani.

Narator:
Rut tidak masuk ke dalam cerita keselamatan melalui darah dan garis keturunan. Ia masuk melalui kesetiaan.

Rut:
Aku tidak memilih Allah karena aku sudah memahami segalanya. Aku memilih berjalan, dan mempercayakan sisanya kepada-Nya. Bangsamulah bangsaku. Allahmulah Allahku.

Narator:
Dari Rut lahir Obed, yang berarti pelayan. Dan dari garis pelayan inilah, lahirlah Juruselamat yang datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani.

(Lampu redup)

 

ADEGAN IV: BETSYEBA (Betsyeba duduk menunduk. Sunyi yang berat.)

 

Betsyeba:
Namaku sering disebut, namun kisahku jarang didengar. Aku menjadi korban kuasa. Namun aku pula yang disalahkan. Aku diminta diam. Dan sejarah terus berjalan tanpa pernah bertanya padaku.

Pemuda: (suara tertahan)

Kadang torang diam bukan karna torang tara terluka, tetapi karena torang so lalah menjelaskan.

Narator:
Allah tidak pernah berpihak pada kejahatan. Namun Ia tidak pernah meninggalkan mereka yang terluka dan menjadi korban atas kekuasaan yang menindas.

Dari Betsyeba lahir Salomo, buah rahim yang pernah terluka, namun dijaga oleh anugerah. Dari sana, Allah melanjutkan cerita-Nya, hingga keselamatan menemukan jalannya.

Betsyeba: (tenang, penuh harap)

Aku percaya, luka tidak menghapus masa depan. Allah sanggup menulis kehidupan baru, bahkan dari kisah yang paling gelap.

(Hening beberapa detik.)

 

ADEGAN V: PERTEMUAN

(Keempat perempuan berdiri berjajar. Pemuda di tengah.)

 

Pemuda:
Kita kira, Natal itu hanya untuk dorang yang hidupnya rapi. Yang langkahnya lurus. Yang imannya tara pernah goyah. Kita sering jatuh. Kita sering gagal. Dan jujur kita tako… tako bahwa kita pe hidup ini tara pernah pantas untuk dirayakan.

Tamar:
Kami pun pernah disingkirkan.

Rahab:
Kami pun pernah diberi label negatif.

Rut:
Kami pun datang dari luar sebagai orang asing.

Betsyeba:
Namun Allah tetap menuliskan nama kami.

 (Pemuda mengangkat wajah.)

Pemuda:
Jadi… apakah kita masih punya tempat dan kesempatan?

Narator:
Natal bukan hadiah bagi yang sempurna. Natal adalah kabar
bahwa Allah tidak menyerah pada mereka yang hampir terhilang.

 

EPILOG: NATAL

(Cahaya palungan, lembut dan hangat.)

 

Pemuda: (dengan kelegaan)

Kalo Allah bersedia lahir dari silsilah keluarga yang retak, mungkin kita tara perlu lagi sembunyikan hal yang kita anggap sebagai kegagalan dalam tape hidup. Mungkin… kita pe nama deng kita pe cerita hidup juga masih ditulis.

Narator:
Yesus lahir dari silsilah keluarga yang retak. Untuk laki-laki dan perempuan. Untuk yang di dalam dan yang di luar. Untuk yang disalahkan. Untuk yang lelah. Untuk yang terus bertahan meski tertatih.  Tidak ada satu nama pun yang terlalu kotor untuk ditulis oleh Allah.

(Semua pemain maju perlahan.)

Semua:

Natal bukan tentang siapa yang pantas. Natal adalah tentang Allah yang tidak pernah meninggalkan dan tetap menyelamatkan manusia meskipun dalam keretakan.

(Lampu redup perlahan - para tokoh menyanyikan lagu "S'lamat Datang Penebusku" - kemudian keluar meninggalkan panggung)


Catatan:

Drama ini diadaptasi dari khotbah “Empat Leluhur Perempuan Yesus” (Matius 1:3–6, 15–16) karya Ebenhaizer I. Nuban Timo, yang dimuat dalam buku Membuat Langit Tersenyum: Khotbah Sepanjang Tahun Gerejawi (Penerbit Ledalero). Khotbah ini menyoroti peran Tamar, Rahab, Rut, dan Betsyeba dalam silsilah Yesus sebagai tanda bahwa karya keselamatan Allah mencakup mereka yang kerap disingkirkan dan dilupakan.

  


Komentar

Postingan Populer