"Keselamatan terlalu mahal untuk diperlakukan seolah-olah tidak ada harganya."
Kita hidup di zaman di mana hampir semua hal bisa diulang. Salah kirim pesan bisa dihapus. Salah bicara bisa diklarifikasi. Gagal hari ini, besok masih bisa coba lagi. Dunia mengajarkan kita logika berpikir: hampir tidak ada yang benar-benar final. Semua bisa diperbaiki. Semua bisa diulang.
Tanpa sadar, pola pikir ini ikut kita bawa ke dalam kehidupan beriman. Termasuk ketika kita berbicara tentang keselamatan. Seolah-olah keselamatan juga bisa ditunda. Hari ini lalai tidak apa-apa, besok masih ada waktu. Sekarang tidak serius, nanti bisa diperbaiki.
Tetapi firman Tuhan dalam Ibrani 2:1–4 justru menghancurkan pola pikir seperti itu. Tidak semua hal bisa diperlakukan seperti itu. Tidak semua kesempatan datang dua kali. Dan ada satu hal yang tidak boleh dianggap bisa diulang, yaitu keselamatan.
Dialog Teks: Kegelisahan Penulis Ibrani.
Ibrani 2:1–4 tidak ditujukan kepada orang yang belum mengenal Tuhan. Teks ini berbicara kepada orang-orang yang sudah percaya, sudah mendengar Injil, sudah hidup dalam persekutuan. Justru di situlah letak bahayanya.
Keselamatan yang besar itu tidak ditolak dan tidak dilawan. Masalahnya, keselamatan itu mulai dianggap biasa. Karena itu pasal ini tidak dibuka dengan penghiburan, tetapi dengan peringatan. Penulis seakan berkata, perhatikan baik-baik imanmu. Pegang sungguh-sungguh apa yang sudah kamu dengar. Jangan sampai hidupmu terbawa arus tanpa kamu sadari.
Iman Bisa Hanyut Tanpa Disadari.
Ayat 1 tidak berbicara tentang orang yang tiba-tiba meninggalkan iman. Tidak ada kisah pemberontakan. Tidak ada perlawanan terbuka. Kata yang dipakai justru sangat sederhana, tetapi serius: hanyut.
Hanyut itu pelan-pelan. Tidak ribut. Tidak terasa. Orang yang hanyut masih berada di sungai yang sama, tetapi arah hidupnya sudah berubah. Masih beribadah, tetapi firman tidak lagi memimpin keputusan hidup. Masih datang ke gereja, tetapi hati tidak lagi sungguh terlibat. Nama Tuhan masih disebut, tetapi cara hidup lebih ditentukan oleh kebiasaan lama, emosi, dan tekanan lingkungan.
Iman jarang hilang karena satu keputusan besar. Iman lebih sering luntur karena kelalaian kecil yang dibiarkan terus-menerus. Doa makin jarang dan dianggap biasa. Firman didengar tetapi tidak direnungkan. Relasi rusak tetapi tidak pernah dibereskan. Hidup tidak berubah, tetapi kita merasa aman karena masih aktif secara rohani.
Firman Tuhan ini menegur dengan keras. Iman bisa hanyut bukan karena kita meninggalkan Tuhan, tetapi karena kita berhenti memperhatikan-Nya.
Keselamatan Terlalu Mahal untuk Dianggap Murah.
Di ayat 2 dan 3, penulis Ibrani membuat perbandingan yang sangat tegas. Jika hukum Taurat saja memiliki konsekuensi serius ketika dilanggar, maka muncul pertanyaan yang menusuk: bagaimana kita akan luput, jika kita menyia-nyiakan keselamatan yang begitu besar?
Perhatikan ini baik-baik. Masalahnya bukan menolak keselamatan. Masalahnya adalah menyia-nyiakan keselamatan. Keselamatan disia-siakan ketika Injil hanya berhenti sebagai pengetahuan, bukan sebagai arah hidup. Ketika kasih karunia dijadikan alasan untuk hidup sembarangan. Ketika pengampunan Tuhan membuat kita malas untuk berubah.
Keselamatan itu datang dari Tuhan sendiri. Diberitakan oleh Yesus. Diteguhkan oleh para saksi. Disertai tanda-tanda kuasa Allah. Jika keselamatan sebesar itu kita anggap enteng, maka kerugiannya bukan kecil. Yang dipertaruhkan adalah arah hidup kita sendiri.
Teguran yang Menghidupkan.
Ibrani 2 tidak ditulis untuk menakut-nakuti orang percaya. Firman ini ditulis untuk membangunkan. Supaya kita tidak tertidur dalam kelalaian. Supaya kita kembali memperhatikan dengan sungguh apa yang sudah kita dengar.
Tidak semua hal bisa diulang. Keselamatan bukan sesuatu yang bisa ditunda. Hari ini Tuhan masih berbicara. Hari ini kesempatan itu masih ada.
Kiranya kita sungguh menghargai keselamatan yang besar itu dan menghidupinya dalam keseharian, selama masih ada kesempatan. Roh Kudus menolong dan menguatkan kita. Amin.
Sangat terberkati,, Tuhan Yesus memberkati
BalasHapus